Mansa Musa — Raja yang Menghancurkan Pasar Emas Dunia
Raja yang Menghancurkan Pasar Emas Dunia
Pada 1324, seorang raja berangkat dari Afrika Barat untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah. Ia membawa serta enam puluh ribu orang, lima ratus budak penghulu yang masing-masing menggenggam tongkat emas, dan seratus ekor unta yang masing-masing memikul tiga ratus pon serbuk emas. Ketika ia melintasi Kairo, ia membagikan emas dalam jumlah begitu besar hingga perekonomian Mesir membutuhkan satu dekade untuk pulih. Dunia abad pertengahan belum pernah menyaksikan hal semacam itu. Mansa Musa — Mansa kesembilan Kekaisaran Mali — memerintah dari pesisir Atlantik hingga lekukan besar Sungai Niger, menguasai pasokan emas dunia lebih besar daripada siapa pun yang hidup pada masanya, dan menjadikan Timbuktu pusat pembelajaran Islam terbesar di Afrika sub-Sahara. Pada 1375, seorang pembuat peta Katalan menggambar sosoknya di jantung Afrika Barat, menggenggam bola emas di tangannya, terlihat jelas dari ujung dunia yang dikenal saat itu.
“Aku datang untuk berhaji dan tidak untuk hal lain. Aku tidak ingin mencampurkan apa pun selain ibadah hajiku.”
2,000 km
Kekaisaran Mali di bawah Mansa Musa terbentang sekitar 2,000 kilometer dari pesisir Atlantik yang kini menjadi Senegal ke timur hingga lekukan besar Sungai Niger — meliputi ladang emas Bambuk dan Bure, tambang garam Taghaza, serta kota-kota niaga Timbuktu, Gao, dan Djenné.
~18 ton
Menurut sejumlah perkiraan, Mansa Musa membagikan sekitar 18 ton emas selama ibadah hajinya pada 1324. Para sarjana Mesir mencatat bahwa harga emas di Kairo anjlok begitu tajam hingga tidak pulih selama dua belas tahun — akibat kedermawanan satu orang saja.
c. 25
Mansa Musa memerintah Kekaisaran Mali dari sekitar tahun 1312 hingga 1337 — kurang lebih dua puluh lima tahun, masa ketika ia menggandakan wilayah kekaisarannya, merampungkan program pembangunan masjid-masjidnya, dan menjadikan Timbuktu pusat keilmuan yang menyaingi Kairo dan Fez.
60,000+
Menurut al-Umari, sarjana Mesir yang mengumpulkan kesaksian para saksi mata ibadah haji 1324, kafilah Mansa Musa berjumlah enam puluh ribu orang. Lima ratus budak penghulu berjalan di depannya, masing-masing menggenggam tongkat emas. Para istri dan selirnya melakukan perjalanan dalam rombongan tersendiri.
Penguasa Kekaisaran Mali, yang ibadah hajinya pada 1324 membanjiri Mesir dan Arab dengan emas serta meruntuhkan harga di seluruh dunia Mediterania selama satu dekade
Peristiwa yang Menentukan
Kekaisaran Emas
Kekaisaran Mali dibangun di atas dua komoditas yang paling didambakan dunia abad pertengahan: emas dan garam. Ladang emas Bambuk dan Bure, jauh di pedalaman sabana selatan Sungai Niger, menghasilkan emas lebih banyak daripada wilayah mana pun di muka bumi. Tambang garam Taghaza di utara menghasilkan mineral yang tanpanya makanan tak dapat diawetkan. Mansa Musa menguasai kedua ujung pertukaran ini. Ia memungut pajak dari setiap kafilah yang melintasi wilayahnya, memelihara pasukan profesional prajurit yang setia, dan menyatukan sebuah kekaisaran dengan keberagaman etnis serta bahasa yang luar biasa melalui perpaduan kekuatan militer, keadilan hukum, dan prestise keilmuan Islam. Di bawah pemerintahannya, Kekaisaran Mali menjadi negara terbesar dan terkaya di dunia abad pertengahan.
Ibadah Haji 1324
Pada musim semi 1324, Mansa Musa berangkat dari Niani menuju Mekah dengan iring-iringan kerajaan terbesar yang pernah disaksikan dunia abad pertengahan. Ketika ia tiba di Kairo, tontonan itu membuat seisi kota terhenti. Ia bertemu Sultan al-Nasir Muhammad dari Mesir, membagikan emas dengan begitu murah hati sehingga para pedagang Mesir masih mengutuk namanya satu dekade kemudian ketika harga-harga belum juga pulih, dan meninggalkan kesan yang tertanam dalam ingatan setiap sarjana dan pedagang yang menyaksikannya. Al-Umari, seorang sarjana yang bermukim di Kairo, mengumpulkan kesaksian para saksi mata bertahun-tahun kemudian dan mengabadikan apa yang hingga kini tetap menjadi sumber primer utama bagi kehidupan Musa. "Lelaki ini," catat al-Umari tentang ucapan orang-orang Mesir, "telah membanjiri Kairo dengan kedermawanannya."
Timbuktu dan Zaman Keilmuan
Ketika Mansa Musa kembali dari Mekah, ia membawa serta Abu Ishaq Ibrahim al-Sahili — penyair dan arsitek Andalusia dari Granada yang ditemuinya di kota suci itu dan diajaknya ke Mali. Al-Sahili merancang balairung kerajaan di Niani dan membangun kembali Masjid Djinguereber di Timbuktu dengan bata bakar dan plester kapur, memberi kota itu sebuah cakrawala arsitektur. Musa mendanai perluasan masjid Sankore, yang selama abad berikutnya akan berkembang menjadi salah satu universitas terbesar di dunia abad pertengahan — dengan koleksi naskah yang diperkirakan para sarjana mencapai satu juta jilid. Timbuktu, yang dahulu hanyalah perkemahan niaga musiman, berubah menjadi kota para sarjana.
Linimasa
Lahir dalam Dinasti Keita
Musa Keita lahir dalam dinasti penguasa Kekaisaran Mali, yang didirikan oleh Sundiata Keita yang legendaris pada abad ketiga belas. Klan Keita menelusuri garis keturunan mereka hingga Bilal ibn Rabah, seorang sahabat Nabi Muhammad — sebuah silsilah yang memberikan keluarga itu prestise keislaman sekaligus wibawa asli setempat. Kekaisaran Mali sudah menjadi kekuatan dominan di Afrika Barat saat Musa lahir, meski kekaisaran itu baru akan mencapai puncak mutlaknya di bawah pemerintahannya.
Menjadi Mansa
Musa naik takhta bukan melalui suksesi langsung, melainkan karena hilangnya pendahulunya, Abu Bakr II. Menurut catatan al-Umari — berdasarkan apa yang diceritakan Musa sendiri kepada Sultan Mesir — Abu Bakr telah terobsesi untuk menemukan apa yang ada di seberang Samudra Atlantik dan melancarkan dua ekspedisi: pertama mengirim 200 kapal, yang hanya satu di antaranya kembali dengan laporan tentang arus deras di laut lepas; kemudian secara pribadi memimpin armada kedua sebanyak 2,000 perahu, yang tak satu pun kembali. Ia tak pernah kembali. Musa, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil dan penguasa mudanya, kemudian mengambil alih kekuasaan. Apakah ekspedisi Atlantik Abu Bakr benar-benar terjadi seperti yang dikisahkan, atau apakah kisah ini dibumbui atau bahkan sepenuhnya rekaan, para sarjana masih memperdebatkannya hingga kini.
Penaklukan Timbuktu dan Gao
Selama masa pemerintahannya, Mansa Musa memperluas perbatasan Mali hingga mencakup Gao, ibu kota Songhai di lekukan timur Sungai Niger, dan memantapkan kendali atas Timbuktu, yang sudah menjadi kota niaga yang makmur di persimpangan jalur perdagangan Sahara dan sabana. Penaklukan-penaklukan ini membawa kota-kota terkaya di Sudan barat ke bawah kendali langsung Mali dan memberi Musa akses ke seluruh koridor perdagangan utara-selatan: emas dan kacang kola mengalir ke utara, garam dan tembaga mengalir ke selatan. Pendapatan pajak tahunan dari kota-kota ini saja sudah sangat mencengangkan menurut ukuran abad pertengahan.
Keberangkatan Haji
Mansa Musa berangkat dari Niani — ibu kota Mali, yang kemungkinan besar terletak di dekat perbatasan modern Guinea dan Mali — menuju ibadah hajinya ke Mekah pada 1324. Kafilah itu berjumlah enam puluh ribu orang menurut hitungan al-Umari: prajurit, sarjana, budak, penghulu, istri, pelayan, dan pedagang. Seratus ekor unta masing-masing memikul tiga ratus pon serbuk emas. Lima ratus budak penghulu berjalan di depan sang raja, masing-masing menggenggam tongkat emas. Ini bukan sekadar ibadah haji — ini adalah pernyataan kekuasaan kekaisaran kepada setiap kerajaan di sepanjang jalur perjalanannya.
Kairo: Emas yang Meruntuhkan Pasar
Ketika Mansa Musa tiba di Kairo dan bertemu Sultan al-Nasir Muhammad, ia membagikan emas dengan begitu bebasnya — kepada Sultan, kepada para pejabat, kepada para pedagang, kepada para pengemis di jalanan — sehingga harga emas di Mesir jatuh. Para informan Shihab al-Umari mengatakan kepadanya bahwa pasar emas Mesir belum pulih dua belas tahun setelah kunjungan itu. Musa dikabarkan memberikan dua belas ribu budak kepada istana Sultan saja. Ia merasa malu, catat al-Umari, karena kehabisan emas tunai menjelang akhir masa tinggalnya dan terpaksa meminjam uang dari para pedagang Kairo dengan bunga tinggi untuk membiayai sisa perjalanannya.
Mekah dan Perjalanan Pulang
Musa menunaikan ibadah haji pada 1324 dan menghabiskan waktu di Mekah dan Madinah untuk membeli properti, membagikan hadiah kepada para sarjana yang ditemuinya, dan memperoleh naskah-naskah untuk perpustakaannya. Dalam perjalanan pulang ia melewati Timbuktu — yang kini sudah berada di bawah kekuasaannya — dan memutuskan untuk membangun kembali masjid besarnya. Ia juga membawa pulang dari Mekah seorang lelaki yang akan mengubah wajah kota itu: Abu Ishaq Ibrahim al-Sahili, arsitek-penyair Andalusia dari Granada, yang akan merancang masjid berbata bakar yang memberi Timbuktu cakrawala khasnya.
Masjid Djinguereber
Sekembalinya ke Mali, Mansa Musa memerintahkan pembangunan kembali Masjid Djinguereber di Timbuktu di bawah arahan Abu Ishaq al-Sahili. Masjid itu dibangun dengan gaya Sudano-Sahel — dinding lumpur tebal dengan penyangga balok kayu yang menonjol dari permukaan luarnya, dirancang untuk bertahan menghadapi perbaikan tahunan yang dituntut oleh hujan dan panas. Masjid ini berdiri sebagai masjid terbesar di Afrika Barat dan menjadi pusat spiritual kehidupan intelektual Timbuktu. Al-Sahili dibayar dua ratus mithqal emas untuk karyanya — menurut sejumlah sumber, jauh lebih banyak dari itu — dan menetap secara permanen di Mali.
Kematian dan Suksesi
Mansa Musa wafat sekitar tahun 1337, meski tanggal pastinya masih diperdebatkan — sejumlah sumber menyebut 1332, sementara yang lain mengacu pada tahun 1337 yang dicatat oleh Ibn Khaldun. Ia digantikan oleh putranya, Mansa Magha, yang memerintah singkat, lalu disusul oleh saudara Musa, Suleyman, yang akan berkuasa hingga 1360 dan yang akan dikunjungi Ibn Battuta pada 1352. Kekaisaran Mali tidak bertahan lama setelah kegemilangan Musa: kekaisaran itu mulai terpecah belah pada akhir abad keempat belas, dan pada awal abad kelima belas Kekaisaran Songhai telah mengungguli kejayaannya. Namun masjid-masjid yang dibangun Musa masih berdiri, dan naskah-naskah yang ia bawa ke Timbuktu masih terus dikatalogkan hingga kini.
Tokoh-Tokoh Penting
Abu Ishaq Ibrahim al-Sahili
Al-Sahili lahir di Granada, di wilayah Andalusia yang saat itu diperintah oleh umat Islam, dan telah membangun reputasinya sebagai penyair serta sarjana sebelum menunaikan ibadah haji ke Mekah — tempat ia bertemu Mansa Musa pada 1324. Musa terpesona oleh keilmuannya dan membujuknya untuk kembali ke Mali, dikabarkan dengan membayarnya sejumlah emas yang luar biasa besar. Al-Sahili merancang balairung berbata bakar di Niani serta Masjid Djinguereber yang dibangun kembali di Timbuktu, memperkenalkan tradisi bangunan ke Afrika Barat yang akan menentukan corak arsitektur wilayah itu selama berabad-abad. Ia menetap secara permanen di Mali dan wafat di sana sekitar tahun 1346. Tanpanya, cakrawala termasyhur Timbuktu — menara-menara tanah liat dan balok kayu yang menonjol itu — tidak akan pernah ada.
Al-Umari
Shihab al-Din Ahmad ibn Fadl Allah al-Umari adalah sarjana yang bermukim di Kairo dan pejabat istana Mamluk yang tidak menyaksikan sendiri kunjungan Mansa Musa, tetapi mengumpulkan kesaksian terperinci dari orang-orang Mesir yang menyaksikannya. Catatannya — terpelihara dalam karya ensiklopedisnya <em>Masalik al-Absar fi Mamalik al-Amsar</em> (Jalan-Jalan Pandangan ke Wilayah-Wilayah Metropolis) — adalah satu-satunya sumber primer terpenting bagi kehidupan Mansa Musa, penampilan fisiknya, praktik keagamaannya, kafilahnya, dan kehancuran yang ditimbulkannya pada pasar emas Kairo. Tanpa al-Umari, Mansa Musa hanya akan dikenal lewat rujukan singkat dalam karya Ibn Battuta dan Ibn Khaldun. Al-Umari menghadirkan sosok manusia itu sendiri kepada kita: bangga, saleh, dermawan, dan sedikit terheran-heran oleh kekacauan yang ditimbulkan oleh emasnya.
Warisan Mansa Musa
Mansa Musa memerintah selama kurang lebih dua puluh lima tahun dan wafat tanpa meninggalkan satu pun kata tertulis — segala yang kita ketahui tentangnya sampai kepada kita melalui mata orang-orang yang bertemu dengannya, mendengar tentangnya, atau menyusun catatan berpuluh-puluh tahun setelah kematiannya. Namun dunia yang dilaluinya tidak melupakannya. Pasar emas Mesir mengenangnya selama dua belas tahun. Atlas Katalan tahun 1375 menempatkan sosoknya di jantung Afrika, terlihat jelas dari ujung dunia yang dikenal saat itu. Masjid-masjid yang ia bangun masih berdiri di Timbuktu dan Djenné. Naskah-naskah yang ia bawa ke Sankore masih terus dihitung hingga kini.
Ia bukan sekadar orang kaya. Ia adalah penjaga sebuah peradaban — perniagaan trans-Sahara, keilmuan Islam, dan tradisi keadilan serta pemerintahan yang membuat Kekaisaran Mali berfungsi. Bahwa ia membagikan emas lebih banyak dalam satu perjalanan daripada yang dikumpulkan sebagian besar kerajaan dalam satu abad bukanlah kesombongan: itu adalah sebuah pernyataan, disampaikan dalam bahasa yang paling dipahami oleh dunia abad pertengahan. Bacalah kisahnya dalam kata-katanya sendiri — ePub sudut pandang orang pertama membawa Anda masuk ke dalam ruang takhta, kafilah gurun, dan pasar-pasar emas Kairo abad pertengahan.
Dapatkan Biografi Lengkap dalam Sudut Pandang Pertama
Baca kisah Mansa Musa yang dituturkan dengan suaranya sendiri — 8 bab narasi sinematik dari sudut pandang pertama.
Lanjutkan Percakapan
Anda telah mendengar kisahnya. Kini tanyakan apa saja.
Bicara dengan Mansa Musa