Abraham Joshua Heschel — Sang Nabi Ketakjuban Radikal

Modern Filsuf
Abraham Joshua Heschel — Sang Nabi Ketakjuban Radikal — book cover

Sang Nabi Ketakjuban Radikal

Lahir 1907
Wafat 1972
Wilayah Polandia / Amerika Serikat
TEMUKAN

Pada 21 Maret 1965, Abraham Joshua Heschel berjalan di barisan depan pawai dari Selma menuju Montgomery, Alabama, janggut putihnya berkibar, langkah kakinya sejajar dengan Martin Luther King Jr., Ralph Bunche, dan Ralph Abernathy. Ia datang dari lorong-lorong marmer Jewish Theological Seminary di New York menuju jalan-jalan berdebu di Selatan Amerika, digerakkan oleh api kenabian yang sama yang pernah membakar Yesaya dan Amos. Bagi Heschel, pawai itu bukan sekadar tindakan politik. Itu adalah liturgi. "Aku merasa kakiku sedang berdoa," ujarnya kelak. Dalam kalimat itu terkandung inti dari seorang manusia yang menghabiskan hidupnya untuk bersikeras bahwa iman tanpa keadilan adalah penistaan.

“Aku merasa kakiku sedang berdoa.”

Masa Hidup

1907–1972

Lahir dari kalangan bangsawan Hasidik di Warsawa, Polandia. Wafat di Kota New York pada usia enam puluh lima tahun. Sebuah kehidupan yang merentang dari kehancuran Yahudi Eropa hingga kebangkitan kembali Yudaisme kenabian di Amerika.

Buku Terbit

16+

Karya-karya utama meliputi The Sabbath (1951), Man Is Not Alone (1951), God in Search of Man (1955), The Prophets (1962), dan Who Is Man? (1965). Tulisan-tulisannya membentuk ulang teologi Yahudi modern.

Keluarga yang Hilang

Hampir Semua

Ibu dan ketiga saudarinya dibunuh dalam Holokaus. Dari dunia Hasidik Warsawa yang semarak tempat ia dibesarkan, nyaris tak ada yang tersisa. Ia memikul kehilangan ini dalam setiap kata yang ia tulis.

Pawai Selma

1965

Berjalan bersama Martin Luther King Jr. dari Selma menuju Montgomery. Salah satu citra paling ikonik solidaritas Yahudi-Kulit Hitam dalam sejarah Amerika. Kehadirannya menegaskan bahwa perjuangan hak-hak sipil adalah kewajiban agama.

Dikenal Sebagai

Teolog Yahudi, filsuf, aktivis hak-hak sipil, suara kenabian abad kedua puluh

Peristiwa yang Menentukan

Abraham Joshua Heschel, portrait photograph, 1964
1962

The Prophets

Karya agung Heschel, yang awalnya merupakan disertasi doktoralnya di Universitas Berlin pada 1933, mengubah cara pandang terhadap kajian kenabian dalam Alkitab. Ia berpendapat bahwa para nabi bukanlah peramal, melainkan manusia yang dicengkeram oleh pathos ilahi — penderitaan Tuhan sendiri atas ketidakadilan manusia. Sang nabi tidak meramal; sang nabi merasakan apa yang dirasakan Tuhan. Gagasan ini — bahwa Tuhan tidak acuh terhadap urusan manusia, melainkan sangat peduli terhadap keadilan — menjadi fondasi seluruh teologi Heschel dan pembenarannya bagi aktivisme politik. Buku ini terbit setahun sebelum March on Washington dan menjadi pedoman bagi keterlibatan keagamaan dalam gerakan hak-hak sipil.

Heschel marching in Selma with Martin Luther King Jr., Ralph Bunche, and Ralph Abernathy, March 1965
21 Maret 1965

Pawai dari Selma

Heschel berjalan di barisan depan pawai Selma-Montgomery bersama Martin Luther King Jr., Ralph Bunche, dan para pemimpin hak-hak sipil lainnya. Foto sang rabi berjanggut putih dengan kippah-nya melangkah di samping King menjadi salah satu citra yang menentukan gerakan tersebut. Bagi Heschel, berpawai bukan sekadar tindakan politik, melainkan bentuk ibadah — "kakiku sedang berdoa," ujarnya. Kehadirannya merepresentasikan komitmen Yudaisme Amerika terhadap perjuangan kebebasan kaum Kulit Hitam dan mewujudkan ajarannya sepanjang hidup bahwa doa tanpa tindakan adalah sesuatu yang tak lengkap.

Abraham Joshua Heschel presenting the Judaism and World Peace award to Martin Luther King Jr.
1961–1965

Konsili Vatikan II dan Dialog Antaragama

Heschel memainkan peran penting dalam membentuk Nostra Aetate, deklarasi Konsili Vatikan Kedua mengenai hubungan Gereja dengan agama-agama non-Kristen. Ia melobi Kardinal Augustin Bea dan bertemu dengan Paus Paulus VI, menentang tuduhan pembunuhan Tuhan (deicide) yang telah berusia berabad-abad terhadap bangsa Yahudi, serta menolak segala dokumen Katolik yang menyerukan pertobatan (konversi) orang Yahudi. Upayanya membantu menghasilkan salah satu dokumen paling berpengaruh dalam sejarah dialog antaragama modern, secara mendasar mengubah hubungan Gereja Katolik dengan Yudaisme setelah hampir dua ribu tahun permusuhan teologis.

Linimasa

1907

Lahir di Warsawa

Lahir pada 11 Januari di Warsawa, Polandia, dari salah satu dinasti Hasidik paling terpandang di Eropa. Ayahnya, Rabi Moshe Mordechai Heschel, adalah keturunan langsung dari Apter Rebbe. Abraham muda diharapkan menjadi seorang guru Hasidik, seorang <em>rebbe</em>, mengikuti tradisi para leluhurnya.

1927

Masuk Universitas Berlin

Meninggalkan dunia tertutup Hasidisme Warsawa untuk belajar di Universitas Berlin dan Hochschule für die Wissenschaft des Judentums. Menguasai filsafat sekular sembari tetap mempertahankan komitmennya yang mendalam terhadap tradisi Yahudi — sebuah perpaduan tak lazim yang akan menentukan corak hidup intelektualnya.

1933

Disertasi Doktoral tentang Para Nabi

Menyelesaikan disertasinya, <em>Die Prophetie</em>, di Universitas Berlin pada tahun yang sama ketika Hitler naik ke tampuk kekuasaan. Karya ini berargumen bahwa esensi kenabian terletak pada keterlibatan batin sang nabi dengan pathos ilahi — kepedulian mendalam Tuhan terhadap keadilan.

1938

Dideportasi dari Jerman

Ditangkap oleh Gestapo dan dideportasi ke Polandia sebagai bagian dari pengusiran massal orang Yahudi Polandia dari Jerman pada Oktober 1938. Ia melarikan diri dari Eropa melalui London menuju Amerika Serikat pada 1940 — enam minggu sebelum invasi Nazi ke Polandia menyegel nasib keluarganya.

1945

Mengetahui Pembunuhan Keluarganya

Memastikan bahwa ibu dan ketiga saudarinya telah dibunuh dalam Holokaus. Warsawa yang pernah ia kenal — dunia istana-istana Hasidik, sinagoge, dan rumah-rumah belajar — telah musnah. Ia memikul duka ini dalam diam sepanjang sisa hidupnya, menyalurkannya ke dalam karya teologisnya.

1951

The Sabbath Terbit

Menerbitkan <em>The Sabbath: Its Meaning for Modern Man</em>, sebuah renungan tentang kesucian waktu, bukan ruang. Buku ini berargumen bahwa inovasi besar Yudaisme adalah penyucian waktu itu sendiri — Sabat sebagai 'katedral dalam waktu', bukan dalam ruang.

1965

Pawai Selma

Berjalan bersama Martin Luther King Jr. dari Selma menuju Montgomery, Alabama. Foto ikonik sang rabi berjanggut di barisan depan pawai menjadi simbol solidaritas Yahudi-Kulit Hitam dan keyakinan Heschel bahwa keadilan adalah keharusan agama, bukan sekadar persoalan politik.

1972

Wafat di New York

Wafat pada 23 Desember di Kota New York pada usia enam puluh lima tahun. Ia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya menentang Perang Vietnam dan memperdalam karya antaragamanya. Putrinya, Susannah, kelak menjadi seorang sarjana terkemuka yang melestarikan dan memperluas warisannya.

Tokoh-Tokoh Penting

Martin Luther King Jr.
Sekutu dan Sesama Nabi

Martin Luther King Jr.

Heschel dan King menjalin salah satu kemitraan antaragama paling berpengaruh pada abad kedua puluh. Mereka pertama kali bertemu dalam sebuah konferensi tentang agama dan ras di Chicago pada 1963, tempat Heschel menyatakan bahwa 'rasisme adalah Setanisme.' King mengundang Heschel untuk berpawai di Selma pada 1965, dan Heschel menjadi salah satu pendukung Yahudi King yang paling lantang bersuara, membela gerakan hak-hak sipil sebagai kewajiban agama yang berakar pada kenabian Alkitab. Sepuluh hari sebelum King dibunuh, Heschel memperkenalkannya dalam sebuah pertemuan para rabi, menyebutnya sebagai 'sebuah suara, sebuah visi, dan sebuah jalan.'

Reinhold Niebuhr
Mitra Dialog Teologis

Reinhold Niebuhr

Teolog Protestan Reinhold Niebuhr adalah mitra intelektual Kristen terdekat Heschel. Keduanya sama-sama mengajar di Seminary Row, New York — Heschel di Jewish Theological Seminary, Niebuhr di Union Theological Seminary yang terletak di seberang jalan — dan berbagi keyakinan bahwa iman menuntut keterlibatan politik. Realisme Kristiani Niebuhr dan Yudaisme kenabian Heschel adalah dua bahasa berbeda untuk wawasan yang sama: bahwa agama yang mengabaikan ketidakadilan mengkhianati fondasinya sendiri. Persahabatan mereka membuktikan bahwa dialog antaragama dapat bersifat intelektual yang ketat, jujur secara teologis, dan berdampak secara politik.

Abraham Joshua Heschel
Sosok yang mengajarkan bahwa doa dan protes adalah tindakan yang sama.

Warisan Abraham Joshua Heschel

Heschel wafat pada 1972, namun pengaruhnya justru semakin mendalam. Keyakinannya bahwa Tuhan tidak acuh — bahwa yang ilahi sangat peduli terhadap penderitaan dan keadilan manusia — berbicara kepada zaman yang telah tumbuh curiga baik terhadap dogma maupun sikap tak peduli. Ia mengajarkan bahwa “ketakjuban radikal” — kemampuan untuk takjub semata-mata pada fakta keberadaan — adalah awal dari segala kebijaksanaan. Ia mengajarkan bahwa Sabat adalah istana yang dibangun dalam waktu, sebuah revolusi mingguan melawan tirani kebendaan. Ia mengajarkan bahwa doa tanpa keadilan adalah hampa, dan keadilan tanpa doa tak berakar.

Dalam sebuah abad yang ditandai oleh genosida, hidupnya adalah penolakan untuk membiarkan kengerian memiliki kata akhir. Bacalah kisahnya dalam kata-katanya sendiri — ePub sudut pandang orang pertama ini membawa Anda masuk ke dalam benak sosok yang berdoa dengan kakinya.

Dapatkan Biografi Lengkap dalam Sudut Pandang Pertama

Baca kisah Abraham Joshua Heschel yang dituturkan dengan suaranya sendiri — 8 bab narasi sinematik dari sudut pandang pertama.

Lanjutkan Percakapan

Anda telah mendengar kisahnya. Kini tanyakan apa saja.

Bicara dengan Abraham Joshua Heschel