Shankara — Pria yang Merebut Kembali Yang Tak Terhingga
Pria yang Merebut Kembali Yang Tak Terhingga
Sekitar tahun 788 M, di desa Kaladi di tepi Sungai Purna, Kerala, lahirlah seorang anak Brahmana Nambudiri bernama Shankara — yang kelak, dalam rentang hidup tak sampai tiga dekade, akan berjalan menyusuri seluruh anak benua India, menyusun tafsir-tafsir filosofis terpenting dalam khazanah sastra Sanskerta, mengalahkan setiap aliran pemikiran saingan utama dalam perdebatan terbuka, dan mendirikan empat biara di empat penjuru mata angin India yang masih meneruskan ajarannya tiga belas abad kemudian. Ia menamai filsafatnya Advaita Vedanta: tafsir non-dualis atas Upanishad kuno. Klaim intinya sekaligus yang paling sederhana dan paling radikal dalam sejarah pemikiran manusia — bahwa diri individu dan hakikat tertinggi realitas adalah satu dan sama.
“Brahma satyam jagat mithyam, jivo brahmaiva naparah.”
s. 788–820 M
Lahir di Kaladi, Kerala, sekitar tahun 788 M. Wafat di Kedarnath, Himalaya, sekitar tahun 820 M, pada usia kurang lebih tiga puluh dua tahun. Tahun-tahun ini masih diperdebatkan — beberapa tradisi India menempatkannya berabad-abad lebih awal — namun kajian ilmiah modern umumnya menerima rentang 788–820 M sebagai yang paling konsisten dengan bukti tekstual.
300+
Shankara dikaitkan dengan lebih dari tiga ratus karya — meski para sarjana modern menganggap mungkin hanya selusin di antaranya yang benar-benar otentik. Karya-karya ini mencakup tafsir atas sepuluh Upanishad utama, Brahma Sutra, dan Bhagavad Gita, ditambah risalah filosofis mandiri serta himne pemujaan. Secara keseluruhan, karya-karya ini membentuk kumpulan karya filosofis paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran India.
4
Shankara mendirikan empat Amnaya Matha — biara penerus tradisi kitab suci — di empat penjuru mata angin anak benua India: Sringeri (selatan), Dwaraka (barat), Puri (timur), dan Jyotirmath (utara). Masing-masing diberi seorang murid utama, sebuah Weda, sebuah Mahavakya, dan sejumlah ordo monastik Dasanami. Keempatnya masih berfungsi sebagai pusat hidup Advaita Vedanta hingga kini.
32
Dalam rentang tahun yang sama dengan yang dibutuhkan Alexander Agung untuk menaklukkan dunia yang dikenalnya, Shankara menyusun tafsir-tafsir filosofis paling canggih dalam sejarah Sanskerta, menjelajahi seluruh anak benua India dengan berjalan kaki, dan mengalahkan — menurut catatan tradisi biografis — setiap aliran filsafat saingan utama. Singkatnya hidupnya itu sendiri menjadi bagian dari legenda.
Pendiri Advaita Vedanta, filsuf non-dualisme, pemersatu pemikiran Hindu di seluruh India
Peristiwa yang Menentukan
Brahmasutra Bhashya
Disusun di Varanasi, tafsir Shankara atas Brahma Sutra karya Badarayana adalah mahakaryanya di bidang filsafat — teks yang menjadikan Advaita Vedanta aliran dominan dalam filsafat India dan menetapkan syarat-syarat perdebatan bagi setiap pemikir sesudahnya, dari Ramanuja hingga Madhva hingga Vivekananda. Setiap aliran Vedanta besar diwajibkan menulis tafsir atas Brahma Sutra; tafsir Shankara adalah yang pertama bersifat menyeluruh, dan yang paling berpengaruh.
Perdebatan Besar di Mahishi
Kemenangan Shankara atas Mandana Mishra — filsuf terbesar dari aliran saingan Purva Mimamsa — adalah pertemuan intelektual paling termasyhur dalam tradisi biografis India. Perdebatan itu berlangsung tujuh belas hari, dengan istri Mandana, Ubhaya Bharati (dianggap sebagai penjelmaan Sarasvati), bertindak sebagai juri. Kalungan bunga di leher Mandana layu lebih dahulu. Pertobatannya kepada Advaita menjadi lambang supremasi intelektual filsafat itu.
Empat Matha
Sebelum wafat, Shankara mendirikan empat biara — di Sringeri, Karnataka; Dwaraka, Gujarat; Puri, Odisha; dan Joshimath di Himalaya — masing-masing dipimpin oleh seorang murid utama, masing-masing dikaitkan dengan salah satu dari empat Weda dan salah satu dari empat Mahavakya. Jaringan kelembagaan ini memastikan Advaita Vedanta bertahan sebagai tradisi yang hidup, bukan sekadar peninggalan tekstual. Para pemimpin matha ini masih menyandang gelar Jagadguru Shankaracharya — Guru Dunia, guru pewaris Shankara.
Linimasa
Kelahiran di Kaladi
Shankara lahir di desa Kaladi di tepi Sungai Purna, yang kini termasuk distrik Ernakulam, Kerala. Ayahnya, Shivaguru, adalah seorang Brahmana Nambudiri yang saleh; ibunya, Aryamba, sangat berbakti kepada Siwa. Shivaguru wafat ketika Shankara berusia sekitar tujuh tahun, meninggalkan anak yang luar biasa itu untuk dibesarkan sendirian oleh ibunya. Catatan tradisional menggambarkan ia menguasai keempat Weda pada usia delapan tahun — pencapaian yang biasanya membutuhkan puluhan tahun belajar dalam tradisi Nambudiri.
Buaya dan Pelepasan Duniawi
Momen penentu masa muda Shankara: ketika sedang mandi di Sungai Purna, seekor buaya mencengkeram kakinya dan menyeretnya ke dalam air. Ia berteriak memohon izin kepada ibunya untuk mengambil sannyasa — pelepasan monastik formal — sebelum ajal menjemput, agar ia dapat mati sebagai seorang biksu. Ibunya, takut akan kehilangan dirinya sepenuhnya, memberikan izin itu. Buaya itu pun melepaskannya. Episode ini — disebut apatsannyasa, pelepasan darurat — mungkin menyimpan sesuatu yang secara historis nyata: Shankara mengucapkan sumpah pelepasan pada usia yang sangat muda, bertentangan dengan harapan keluarganya, didorong oleh keyakinan tak tergoyahkan bahwa hanya jalan jnana yang dapat membawa pada pembebasan.
Gua di Omkareshvara
Setelah melepaskan kehidupan berumah tangga, Shankara muda berangkat ke utara dari Kerala mencari seorang guru yang mumpuni. Ia menyeberangi Dataran Tinggi Deccan menuju lembah Sungai Narmada dan tiba di Omkareshvara — sebuah pulau suci di sungai itu, tempat salah satu dari dua belas jyotirlingga (kuil Siwa yang muncul dengan sendirinya). Di sana, sambil bermeditasi dalam sebuah gua, ia menemukan gurunya: Govindapada (Govinda Bhagavatpada), seorang biksu dari tradisi Dasanami dan murid dari Gaudapada yang agung. Shankara memperkenalkan dirinya lewat sebuah syair Sanskerta yang mengalir spontan. Govindapada mengenali seorang murid yang luar biasa, menerimanya, dan menahbiskannya secara resmi ke dalam tradisi Advaita.
Kashi — Tafsir-Tafsir Agung
Govindapada mengutus Shankara ke Varanasi (Kashi) — kota suci di tepi Sungai Gangga dan ibu kota intelektual India klasik — untuk menulis tafsir-tafsirnya. Di Kashi, Shankara menyusun Brahmasutra Bhashya, tafsirnya atas sepuluh Upanishad utama, dan Bhagavad Gita Bhashya. Di sinilah pula terjadi pertemuan dengan Chandala di tangga ghat Sungai Gangga — Siwa sendiri yang menyamar, menantang pemahaman Shankara tentang non-dualisme dengan sebuah pertanyaan yang tak dapat dijawab logika mana pun: jika Atman ada di mana-mana, siapakah yang meminta siapa untuk menyingkir?
Perdebatan dengan Mandana Mishra
Shankara melakukan perjalanan ke Mahishi (kini di Bihar) untuk berdebat dengan Mandana Mishra, filsuf terbesar aliran Purva Mimamsa dan pembela doktrin bahwa tindakan ritual yang dipadukan dengan pengetahuan diperlukan untuk pembebasan. Perdebatan itu berlangsung tujuh belas hari, dengan istri Mandana, Ubhaya Bharati, sebagai wasit. Kalungan bunga di leher Mandana layu lebih dahulu — tanda kekalahan yang telah disepakati. Mandana menerima Shankara sebagai gurunya, mengucapkan sumpah monastik, dan diberi nama Suresvara. Ia kemudian menjadi kepala pertama Matha Sringeri.
Digvijaya — Penaklukan Penjuru Mata Angin
Perjalanan Shankara ke seluruh India untuk berdebat dan mengajar: ke selatan menuju Srirangam, Ramesvaram, dan Tamraparni; ke barat menuju Ujjain, Dwaraka di pesisir Gujarat; ke timur menuju Puri dan kuil Jagannatha di Odisha; ke utara menuju Badrinath, Kedarnath, dan Himalaya yang tinggi. Ke mana pun ia pergi, ia berdebat dengan para pembela aliran-aliran saingan — kaum Mimamsaka, Samkhya, Waisesika, dan para logikawan Buddhis — serta menegakkan Advaita sebagai tafsir dominan atas tradisi Upanishad. Ia mendirikan empat Amnaya Matha, menunjuk Suresvara (selatan/Sringeri), Padmapada (barat/Dwaraka), Hastamalaka (timur/Puri), dan Totakacharya (utara/Joshimath) sebagai kepala pertama mereka.
Upacara Terakhir bagi Sang Ibu
Shankara kembali ke Kerala setelah mendengar ibunya, Aryamba, tengah sekarat. Menurut konvensi monastik, seorang sannyasin tidak boleh melakukan upacara terakhir bagi sanak keluarga — pelepasan duniawi berarti memutus seluruh ikatan keluarga. Namun Shankara menolak untuk meninggalkannya. Ketika sang ibu wafat, ia sendiri yang melaksanakan pembakaran jenazahnya. Sejumlah catatan menyebutkan bahwa para Brahmana Nambudiri setempat menolak membantu seorang biksu melakukan upacara itu, sehingga Shankara membakar jenazah ibunya seorang diri, menyalakan tumpukan kayu bakar melalui kekuatan konsentrasi yoganya. Adegan ini menyimpan paradoks terdalam dalam hidupnya: sang filsuf yang tak terhingga yang, hingga akhir hayatnya, tetap menjadi seorang putra yang berbakti.
Wafat di Kedarnath
Perjalanan terakhir Shankara membawanya ke Kedarnath di ketinggian Himalaya — sebuah kuil suci Siwa di pegunungan Garhwal, pada ketinggian 3.583 meter di atas permukaan laut, yang hanya dapat dicapai pada musim panas sebelum salju menutup jalur pegunungan. Usianya kira-kira tiga puluh dua tahun. Tradisi menyebutkan bahwa ia berjalan masuk ke ruang suci utama kuil Kedarnath dan tidak pernah kembali — jasadnya tak pernah ditemukan. Ia telah menyatu dengan Siwa, yang selama hidupnya ia puja, ia agungkan dalam himne, dan ia samakan dengan Yang Absolut. Ajaran itu pun genap sempurna.
Tokoh-Tokoh Penting
Govindapada
Govinda Bhagavatpada bermeditasi dalam sebuah gua di Omkareshvara, di tepi Sungai Narmada, meneruskan garis silsilah Advaita yang berakar hingga Gaudapada dan Mandukya Upanishad. Ia bukanlah penulis yang produktif — mungkin lebih merupakan guru lisan — tetapi ia mengenali dalam diri Shankara muda sebuah bakat yang begitu luar biasa hingga ia berkata kepadanya: karya yang tak sanggup kuselesaikan, akan kau selesaikan. Ia memberikan Shankara penahbisan resmi ke dalam ordo monastik Dasanami dan mengutusnya ke Kashi untuk menulis. Seluruh bangunan Advaita Vedanta klasik bertumpu pada satu keputusan itu, yang diambil dalam sebuah gua di atas sebuah sungai.
Mandana Mishra
Filsuf terkemuka dari aliran Purva Mimamsa, Mandana Mishra meyakini bahwa tindakan ritual Weda yang dipadukan dengan pengetahuan — bukan pengetahuan semata — diperlukan untuk pembebasan. Karya-karyanya, termasuk Brahmasiddhi dan Vidhiviveka, merepresentasikan posisi saingan paling canggih terhadap Advaita di India abad ke-8. Setelah tujuh belas hari perdebatan, kalungan bunganya layu lebih dahulu daripada milik Shankara, dan ia pun menjadi biksu Suresvara — murid Shankara yang paling canggih secara filosofis, penulis Naishkarmyasiddhi dan tafsir-tafsir metrikal yang luas atas bhashya Upanishad karya Shankara. Apakah Mandana dan Suresvara adalah satu orang yang sama secara historis tetap menjadi salah satu perdebatan besar dalam kajian Sanskerta.
Warisan Shankara
Adi Shankaracharya hidup selama kurang lebih tiga puluh dua tahun dan membentuk ulang seluruh sebuah peradaban. Ia mendapati pemikiran filosofis India terpecah-belah di antara puluhan aliran yang saling bersaing — Mimamsa, Samkhya, Waisesika, Nyaya, dan berbagai tradisi Buddhis — dan meninggalkannya dalam keadaan bersatu di sekitar satu gagasan tunggal yang radikal: hanya Brahman yang nyata; dunia yang kita persepsikan pada akhirnya tidaklah nyata; dan diri individu adalah Brahman itu sendiri, bukan sesuatu yang lain. Inilah Advaita Vedanta — non-dualisme — dan ia menjadi aliran dominan dalam filsafat Hindu, sebuah kedudukan yang masih dipegangnya hingga kini.
Pengaruh filosofisnya tidak berhenti pada zaman pertengahan. Swami Vivekananda membawa Advaita Vedanta ke Barat pada Parlemen Agama-Agama Dunia di Chicago tahun 1893, menyebutnya sebagai inti filosofis agama Hindu. Ramana Maharshi, orang bijak abad ke-20 dari Tiruvannamalai, mengajarkan jalan langsung menuju pencarian diri yang jelas-jelas bersifat Advaitik. Schopenhauer, ketika membaca terjemahan Latin Upanishad oleh Anquetil-Duperron, menemukan di dalamnya wawasan non-dualis yang sama dengan yang tengah ia cari lewat pemikiran Kant. Sang filsuf yang wafat tanpa alas kaki di Himalaya pada usia tiga puluh dua tahun terus berbicara hingga kini.
Bacalah kisahnya dalam kata-katanya sendiri — sungai, gua, kota, perdebatan, matha-matha, sang ibu, gunung itu — dalam ePub sudut pandang orang pertama.
Dapatkan Biografi Lengkap dalam Sudut Pandang Pertama
Baca kisah Shankara yang dituturkan dengan suaranya sendiri — 8 bab narasi sinematik dari sudut pandang pertama.