Voltaire — Sang Patriark dari Ferney

Pencerahan Pemikir
Voltaire — Sang Patriark dari Ferney — book cover

Sang Patriark dari Ferney

Lahir 1694
Wafat 1778
Wilayah Prancis
TEMUKAN

Pada pagi hari 16 Mei 1717, seorang penyair berusia dua puluh dua tahun diseret dari ranjangnya di Paris dan dilemparkan ke dalam penjara Bastille. Kejahatannya: menulis sajak-sajak satire yang mengejek wali negara Prancis. Ia akan menghabiskan sebelas bulan di benteng itu, dan ketika keluar, ia membawa nama baru — Voltaire — serta tekad yang kelak menjadikannya penulis paling ditakuti di benua Eropa. Selama enam dekade ia akan menulis lebih dari dua puluh ribu surat, menghasilkan lakon-lakon yang memenuhi gedung Comédie-Française, menerbitkan karya-karya filosofis yang mengguncang singgasana dan altar, serta mengobarkan perang satu orang melawan intoleransi agama yang mengubah arah peradaban Eropa.

“Mereka yang mampu membuatmu memercayai hal-hal absurd, mampu pula membuatmu melakukan kekejian.”

Rentang Hidup

1694–1778

Lahir dengan nama François-Marie Arouet pada 21 November 1694 di Paris. Wafat pada 30 Mei 1778 di Paris, dalam usia delapan puluh tiga tahun, setelah kepulangannya yang penuh kemenangan ke kota yang dua kali memenjarakannya.

Karya Terbit

2,000+

Voltaire menghasilkan lebih dari dua ribu buku dan pamflet, serta lebih dari dua puluh ribu surat yang masih terlestarikan — salah satu output sastra terbesar dalam sejarah.

Pemenjaraan di Bastille

2

Dipenjara di Bastille pada 1717–18 karena sajak satire terhadap wali negara, dan sekali lagi secara singkat pada 1726 setelah perselisihan dengan chevalier de Rohan-Chabot.

Tahun-tahun di Ferney

20

Dari 1758 hingga 1778, Voltaire memerintah tanah miliknya di Ferney di perbatasan Swiss, mengubahnya menjadi ibu kota intelektual Eropa sekaligus tempat perlindungan bagi mereka yang teraniaya.

Dikenal Sebagai

Pembela akal budi, toleransi, dan kebebasan sipil yang mendominasi Zaman Pencerahan Eropa lewat kecerdikannya, karya-karya filosofisnya, dan kampanye tanpa henti melawan fanatisme agama

Peristiwa yang Menentukan

Portrait of Voltaire as a young man, after Nicolas de Largillière
1734

Lettres philosophiques

Setelah dua setengah tahun pengasingan di Inggris, Voltaire menerbitkan Lettres philosophiques — sebuah perbandingan yang menghantam antara masyarakat Inggris yang toleran dan absolutisme Prancis. Buku itu dibakar secara terbuka oleh Parlement Paris, surat perintah penangkapan Voltaire dikeluarkan, dan Zaman Pencerahan pun mendapatkan manifestonya.

Illustration from Candide by Jean-Michel Moreau, 1787 edition
1759

Candide

Ditulis dalam kobaran semangat yang membara di Ferney, Candide, ou l’Optimisme menjadi satire paling termasyhur dalam sastra Barat. Serangannya terhadap optimisme ala Leibniz — ‘dunia terbaik dari segala dunia yang mungkin’ — di tengah reruntuhan gempa Lisbon, sekaligus lucu dan menghancurkan. Novela ini dilarang di seantero Eropa dan tak pernah berhenti dicetak.

Château de Voltaire at Ferney, from which he waged his campaign for tolerance
1762–1765

Perkara Calas

Ketika Jean Calas, seorang pedagang Protestan di Toulouse, disiksa dan dieksekusi di atas roda patah karena dituduh membunuh putranya sendiri, Voltaire melancarkan kampanye tiga tahun yang berhasil membatalkan vonis tersebut dan menyingkap kebencian agama dalam sistem peradilan. Traité sur la tolérance karyanya menjadi dokumen pendiri perjuangan modern demi kebebasan beragama.

Linimasa

1694

Lahir di Paris

François-Marie Arouet lahir pada 21 November 1694, anak bungsu dari lima bersaudara, putra François Arouet, seorang notaris kaya sekaligus pejabat rendahan perbendaharaan negara. Ibunya meninggal ketika ia berusia tujuh tahun. Ia dididik oleh para Jesuit di Collège Louis-le-Grand, tempat ia menumbuhkan kecintaan pada sastra dan teater — sekaligus keraguan seumur hidup terhadap otoritas agama.

1717–1718

Pemenjaraan Pertama di Bastille

Ditangkap karena menulis sajak-sajak satire yang mengejek Philippe d’Orléans, wali negara Prancis, Arouet muda menghabiskan sebelas bulan di Bastille. Ia memanfaatkan waktu itu untuk menulis tragedi besar pertamanya, <em>Oedipe</em>, yang tayang perdana pada 1718 dengan sambutan luar biasa. Ia mengadopsi nama pena Voltaire — kemungkinan sebuah anagram dari ‘Arouet le jeune’.

1726–1729

Pengasingan ke Inggris

Setelah perselisihan terbuka dengan chevalier de Rohan-Chabot — yang menyuruh anak buahnya memukuli Voltaire di jalanan — Voltaire kembali dipenjara sebentar di Bastille, lalu diasingkan ke Inggris. Ia menghabiskan hampir tiga tahun di London, mempelajari karya-karya Locke dan Newton, berteman dengan Jonathan Swift dan Alexander Pope, serta menemukan sebuah masyarakat yang dibangun di atas toleransi dan penyelidikan empiris.

1734

Lettres philosophiques Terbit

Voltaire menerbitkan <em>Lettres philosophiques</em>, memuji kebebasan Inggris sekaligus secara tersirat mengecam despotisme Prancis. Buku itu dibakar secara terbuka di Paris, surat perintah penangkapannya dikeluarkan, dan ia melarikan diri ke château kekasih sekaligus rekan intelektualnya, Émilie du Châtelet, di Cirey, di perbatasan Champagne dan Lorraine.

1734–1749

Tahun-tahun Cirey bersama Émilie du Châtelet

Selama lima belas tahun, Voltaire dan Marquise du Châtelet hidup dan bekerja bersama di Cirey — menulis, melakukan eksperimen ilmiah, dan mempelajari Newton. Émilie menghasilkan terjemahan Prancis dari <em>Principia</em> karya Newton yang hingga kini tetap menjadi edisi standar. Ia wafat pada 1749 setelah melahirkan, dan Voltaire hancur karenanya.

1750–1753

Di Istana Frederick yang Agung

Diundang oleh Frederick II dari Prusia, Voltaire menetap di Potsdam sebagai pendamping sang raja-filsuf. Hubungan keduanya memburuk akibat skandal keuangan dan saling tuding. Voltaire meninggalkan Prusia pada 1753, sempat ditahan singkat di Frankfurt oleh agen-agen Frederick, dan mendapati dirinya tak diterima baik di Berlin maupun Paris.

1759

Candide Terbit

Menulis dari tanah miliknya yang baru di Ferney, Voltaire menerbitkan <em>Candide, ou l’Optimisme</em>, yang seketika menjadi buku terlaris sekaligus dilarang di seantero Eropa. Novela satire ini menyerang optimisme filosofis, kemunafikan agama, dan kekejaman perang. Karya ini menjadi karya Pencerahan Prancis yang paling banyak dibaca.

1778

Kepulangan Penuh Kemenangan ke Paris dan Kematiannya

Setelah dua puluh delapan tahun pengasingan, Voltaire kembali ke Paris pada Februari 1778 untuk menyaksikan pementasan perdana tragedinya, <em>Irène</em>. Kota itu meletup: kerumunan mengerubungi keretanya, Académie française menyambutnya dengan penuh kemenangan, dan Benjamin Franklin membawa cucunya untuk memohon berkat sang filsuf tua. Voltaire wafat pada 30 Mei, dalam usia delapan puluh tiga tahun. Gereja menolak memakamkannya; jenazahnya diselundupkan keluar Paris untuk dimakamkan di Champagne.

Tokoh-Tokoh Penting

Émilie du Châtelet
Kekasih & Mitra Intelektual

Émilie du Châtelet

Gabrielle Émilie Le Tonnelier de Breteuil, Marquise du Châtelet, adalah seorang matematikawan, fisikawan, dan filsuf yang menjadi pendamping Voltaire selama lima belas tahun di Cirey. Ia menerjemahkan <em>Principia Mathematica</em> karya Newton ke dalam bahasa Prancis, melakukan eksperimen-eksperimen terobosan mengenai hakikat api, dan menantang Voltaire secara intelektual dengan cara yang tak sanggup ditandingi siapa pun. Kematiannya saat melahirkan pada 1749 menjadi kehilangan paling mendalam dalam hidup Voltaire.

Frederick yang Agung
Pelindung Kerajaan & Rival

Frederick yang Agung

Frederick II dari Prusia merayu Voltaire selama bertahun-tahun lewat korespondensi yang rumit, menyebutnya sebagai pikiran terbesar di Eropa. Ketika Voltaire akhirnya tiba di Potsdam pada 1750, keduanya menikmati kemitraan intelektual yang intens — hingga kesombongan, skandal keuangan, dan watak otoriter Frederick memisahkan mereka. Perpisahan mereka pahit dan berlangsung di depan umum, namun keduanya tetap surat-menyurat hingga Voltaire wafat, tak sanggup melepaskan apa yang pernah menjadi persahabatan paling termasyhur di Zaman Pencerahan.

Voltaire
Château de Ferney — tempat perlindungan, pabrik, sekaligus ibu kota intelektual Eropa milik Voltaire.

Warisan Voltaire

Voltaire tidak sekadar menulis tentang Zaman Pencerahan — ia adalah Zaman Pencerahan itu sendiri. Dari Bastille hingga Ferney, dari London hingga istana Frederick yang Agung, ia mengobarkan kampanye enam puluh tahun demi akal budi, toleransi, dan kebebasan sipil yang mengubah lanskap moral dunia Barat. Seruan perjuangannya, Écrasez l’infâme — “Hancurkan yang keji itu” — menjadi semboyan sebuah zaman.

Ketika ia wafat pada 1778, jasadnya ditolak untuk dimakamkan oleh Gereja yang telah ia lawan seumur hidupnya. Tiga belas tahun kemudian, pemerintah revolusioner menggali kembali jenazahnya dan mengaraknya ke Panthéon dalam sebuah prosesi obor. Inskripsi pada kereta jenazahnya berbunyi: “Ia memberi dorongan besar bagi pikiran manusia. Ia mempersiapkan kita untuk kebebasan.”

Bacalah kisah Voltaire dalam suaranya sendiri melalui ePub sudut pandang orang pertama — dari kegelapan penjara Bastille hingga kejayaan di Ferney.

Dapatkan Biografi Lengkap dalam Sudut Pandang Pertama

Baca kisah Voltaire yang dituturkan dengan suaranya sendiri — 8 bab narasi sinematik dari sudut pandang pertama.

Lanjutkan Percakapan

Anda telah mendengar kisahnya. Kini tanyakan apa saja.

Bicara dengan Voltaire